Minggu, 20 Oktober 2013

PERMASALAHAN SOSIAL TENTANG KEPADATAN PENDUDUK DI KOTA-KOTA BESAR DI INDONESIA



PERMASALAHAN SOSIAL TENTANG KEPADATAN PENDUDUK DI KOTA-KOTA BESAR DI INDONESIA


NAMA: VALENTIENA FEBRIYORA
KELAS : 5KA36
NPM: 19112243

PENDAHULUAN
Population density atau yang lebih dikenal dengan kepadatan penduduk adalah jumlah penduduk yang mendiami suatu wilayah atau daerah tertentu dengan satuan per kilometer persegi. Ciri-ciri kepadatan penduduk yang makin lama makin tinggi adalah tingginya pertumbuhan penduduk yang terus berjalan dan meningkatnya jumlah pemukiman di daerah tersebut.
Indonesia terutama di ibukota negara Indonesia yaitu jakarta yang memang adalah kota terpadat di Indonesia. Jakarta merupakan ibu kota indonesia  yang banyak menarik pendatang dari dalam negeri maupun luar negeri. Jakarta pun merupakan pusat pemerintahan, pusat bisnis dan keuangan. Tak heran jika kota ini terpadat karena banyaknya transmigran yang bertransmigrasi ke kota ini. Banyak suku-suku yang mendiami kota ini antara lain : Jawa, Sunda, Minang, Batak dan Bugis
IDENTIFIKASI MASALAH
Semakin bertambahnya pendatang maka kepadatan penduduk pun semakin meningkat, kepadatan penduduk jelas menjadi inti masalah dari keadaan penduduk yang menjadi masalah sosial di kota-kota besar, berikut beberapa masalah yang timbul akibat kepadatan penduduk yang tidak terkendali oleh pemerintah : 
  1. Sifat konsumtif
  2. Kekumuhan kota
  3. Kemacetan Lalu lintas
  4. Kriminalitas tinggi
  5. Struktur kota berantakan
  6. Banjir
  7. Terjadinya kemerosotan kota
  8. Pengembangan industri yang menghasilkan limbah
  9. Pelebaran kota dengan tata yang tidak baik
  10. Melonjaknya sektor informal
Berdasarkan kepadatan penduduknya, tiap-tiap daerah dapat digolongkan menjadi tiga macam yaitu :
1. Kelebihan Penduduk (over population)
Kelebihan penduduk adalah keadaan daerah tertentu selama waktu yang terbatas, dimana bahan-bahan keperluan hidup tidak mencukupi kebutuhan daerah tersebut secara layak. Daerah yang mengalami kelebihan penduduk biasanya akan mengalami kesulitan pemenuhan kebutuhan pokok penduduk (pangan, sandang dan tempat tinggal).
2. Kekurangan Penduduk (under population)
Kekurangan penduduk adalah keadaan suatu daerah tertentu, dimana keadaan jumlah penduduk sudah sedemikian kecilnya, sehingga sumber alam yang ada hanya sebagian yang mampu untuk dimanfaatkan.
3. Penduduk Optimum (optimum population)
Penduduk optimum adalah jumlah penduduk yang sebaik-baiknya berdasarkan daerah tertentu. Penduduk dapat berproduksi maksimum perkapita berdasarkan sumber alam yang tersedia dan teknologi yang berkembang.
ALAT ANALISA

Usaha untuk pemecahan permasalahan tersebut sudah tentu tidak berdiri sendiri, melainkan saling berkaitan dan saling mempengaruhi. Dalam usaha ini perlu dilakukan analisa dan perkiraan potensi perkembangannya dimasa yang akan datang dengan melakukan proyeksi.

A.  Kependudukan
Metoda yang dapat dipergunakan memperkirakan jumlah  penduduk dimasa yang akan datang antara lain :
1.      Bunga Berganda
2.      Regresi Linier
3.      Cohort Survival Method (CSM)
4.      Polynomial
Sedangkan untuk melihat perbandingan jumlah penduduk menurut struktur usianya (terutama usia pendidikan dan usia produktif) sebagai patokan untuk menghitung kebutuhan jumlah unit dan ruang fasilitas pendidikan dimasa mendatang, dapat dihitung dengan menggunakan "metoda Sparague".

1.   Bunga Berganda
Teknik ini menganggap perkembangan jumlah penduduk akan berganda dengan sendirinya. Rumus matematis bunga berganda adalah :

Pt + n  = Pt (1 + r) n

Dimana :
Pt         =  Jumlah penduduk daerah yang diselidiki pada tahun dasar t
Pt+n    =  Jumlah penduduk daerah yang diselidiki pada tahun t+n
r           =  Rata-rata prosentase tambahan jumlah penduduk daerah yang  diselidiki berdasarkan data masa lampau.

2.   Regresi Linier
Proyeksi jumlah penduduk dengan pendekatan statis­tik adalah dengan cara regresi linier. Teknik ini merupa­kan teknis secara grafis, dengan cara garis ekstrapolasi  ditarik dengan metoda selisih kuadrat minimum. Secara matematis, garis regresi dinyatakan dengan persamaan :

P = a + bx

Dimana :
P          = Jumlah penduduk daerah yang diselidiki
x          = Nilai yang diambil dari variabel bebas
a,b       = Konstanta
Perhitungan konstanta diperoleh berdasarkan perhitungan :

P          = Na + b X        (1)
PX       = a X + b X2   (2)

Persamaan (1) dan (2) memberi harga :

           P   X2  -   X   XP
a =
           N   X2  - (  X)2 

           N   XP  -   X   P
b =
              N   X2   - (  X) 2 
                            
Dengan  N = Jumlah tahun data pengamatan.
Untuk  kepentingan  proyeksi, rumus  regresi  linier ditulis :
           
Pt + n = a + b X t + n

3.  Cohort Survival Method (CSM)
Teknik perhitungan ini didasarkan pada selisih antara angka kematian dan angka tetap hidup berbagai ke­lompok umur, kelamin, dan lain-lain. Biasanya penduduk dikelompokkan menurut usia. Untuk mengetahui pertambahan keseluruhan, kelompok umur yang tetap hidup dijumlahkan. Untuk mengetahui laju pertambahan penduduk masing-masing kelompok umur, digunakan daftar kematian tiap-tiap kelom­pok umur, dan juga angka keseluruhan wanita tiap kelompok umur.

Untuk tiap selang (interval) usia, pertambahan jumlah penduduk diperhitungan dari :
·      Jumlah wanita melahirkan pada tiap kelompok usia,
·      Jumlah tetap hidup dengan menggunakan laju kematian pada tiap kelompok usia.

Keuntungan dari teknik ini adalah hasil dari perk­iraan penduduk berdasarkan kelompok umur, tetapi menuntut persyaratan kelengkapan data. Usaha pendistribusian penduduk dilakukan untuk dapat pula mengurangi tekanan di daerah yang sangat padat dengan memperhatikan kepadatan minimum dan dikaitkan dengan usaha pengembangan/pembagian fasilitas dan utilitas lingkungan.

B. Analisis Ekonomi
Jenis pendekatan yang dipergunakan pada analisis ini adalah Metoda Location Quotient (LQ), dengan rumus :

                     Si/Ni            Si/S       
    LQij  =                  =
                      S/N            Ni/N

Dimana :  
Si    = Jumlah buruh industri i di daerah  yang diselidiki.
S     = Jumlah  buruh  industri  seluruhnya  didaerah yang diselidiki.
Ni    = Jumlah buruh industri i  di   seluruh negara  atau  daerah  yang  lebih  luas dimana daerah  yang diselidiki menjadi bagiannya.
N    = Jumlah  seluruh buruh diseluruh negara atau  daerah  yang  lebih  luas  dimana daerah yang diselidiki jadi bagiannya.

C.  Pengembangan Jaringan Jalan
Pengembangan jalan ini berfungsi untuk menentukan kemudahan hubungan antar tiap-tiap pusat kegiatan, dimana hal yang perlu dinilai adalah :
1.   Pengukuran Nilai Volume/Kapasitas (V/K) atau LHR (Lalu-lintas Harian Rata- rata)
2.   Penilaian Kondisi Jalan dan Prioritas Penanganannya
3.   Penentuan Fungsi Jaringan Jalan
4.   Pengukuran Aksesibilitas

Untuk mengetahui kemudahan daya hubung atau aksesibili­tas antara satu lokasi dengan lokasi lainnya, misalnya antara pusat pelayanan ke pemukiman, dapat digunakan beberapa cara yang mungkin akan digunakan adalah :
* Nilai aksesibilitas

                FKT  
      A =
                 d

Dimana :
A          =  Nilai aksesibilitas
F          =  Fungsi jalan 
K          =  Konstruksi jalan
T          =  Kondisi jalan (baik,sedang,buruk).
D          =  Jarak
Asumsi yang digunakan dalam metoda ini adalah :
·    relief topografi dianggap sama,
·    selera/faktor sosial diabaikan,
·    hanya ada satu jalan ke tempat yang dituju.

* Indeks aksesibilitas
                 Ej      
       Ai =           b
                dij      

Dimana :
Ei      =   Ukuran aktivitas (dapat  digunakan antara lain jumlah penduduk usia kerja)
dij      =   Waktu tempuh perjalanan  antara  daerah i dan j
b        =   Parameter

Perhitungan parameter b, dilakukan dengan menggunakan   grafik regresi linier, diperoleh berdasarkan perhitungan  :

                 T     
      k =
                P

Dimana :
T       =   Total individu trip
P        =   Jumlah penduduk di seluruh daerah

                     PiPj  
     Tij = k
                       P

Dimana :
Tij     =  Hypothetical trip volume
PiPj  =  Jumlah penduduk di daerah i dan j
P      =  Jumlah penduduk seluruh daerah

D. Tinjauan Terhadap Pola Penggunaan Lahan
Pengukuran  intensitas penggunaan lahan dapat mem­pergunakan metoda penentuan nilai :
1.  Location Quotient (LQ)
·    Untuk setiap penggunaan yang mempunyai nilai LQ>1 menunjukkan bahwa  intensitas penggunaan  tersebut tinggi,
·    Untuk setiap penggunaan yang mempunyai nilai LQ<1 bahwa="" intensitas="" menunjukkan="" penggunaan="" rendah="" span="" tersebut="">
2.  Dominasi kegiatan
3.  Kajian mengenai kepadatan bangunan (KLB dan KDB saat ini) dan sempadan bangunan, yang dihubungkan dengan kebutuhan dimasa mendatang.

E.  Pola Penyebaran dan Penyediaan Fasilitas/Utilitas
Tinjauan terhadap penyebaran dan penyediaan fasilitas perkotaan, dimaksudkan untuk mengetahui :
·    kelengkapan dan tingkat pelayanan setiap fasilitas dan utilitas perkotaan,
·    kemerataan pelayanan fasilitas dan utilitas perkotaan ke seluruh bagian wilayah kota atau blok peruntukan,
·    hasil guna dan daya guna tiap-tiap jenis fasilitas dan utilitas perkotaan,
·    kualitas pelayanan fasilitas dan utilitas.
Tingkat pelayanan fasilitas umum adalah kemampuan suatu jenis fasilitas didalam melayani kebutuhan penduduknya. Dalam hal ini, fasilitas umum yang memiliki tingkat pelayanan 100 % mengandung arti bahwa fasilitas tersebut, memiliki kemampuan yang sama dengan kebutuhan penduduknya. Untuk mengetahui kelengkapan fasilitas umum suatu kota dihitung tingkat pelayanannya dengan rumus :

                      aij/bj           
    T.Pij  =                 x 100% 
                      Cis       

Dimana :           
T.Pij     =   Tingkat Pelayanan Fasilitas i di kota j
aij        =   Jumlah Fasilitas i di kota j
bj         =   Jumlah Penduduk di kota j
Cis      =   Jumlah Fasilitas i per satuan penduduk Menurut  standar kota yang dipergunakan

F. Analisis Perkiraan Kebutuhan Ruang
Model yang digunakan dalam menentukan kebutuhan ruang kota ini adalah berdasarkan standar yang berlaku di Indonesia. Hal ini disesuaikan dengan kondisi dan sistem yang berlaku di Indonesia.
Beberapa model standar yang dapat dipergunakan untuk  memperkirakan kebutuhan ruang tersebut,  antara lain :
·    Pedoman  standar lingkungan  pemukiman kota  (Puslitbang Pemukiman Departemen Pekerjaan Umum).
·    Pedoman standar pembangunan perumahan sederhana.     
·    Peraturan Bangunan Nasional.
·    Undang-undang  Nomor 13 tahun 1980 tentang jalan (Departemen Pekerjaaan Umum Republik Indonesia).
·    Peraturan Geometris jalan raya  dan jembatan (Direktorat Jenderal Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum).      
·    Peraturan Pemerintah  Republik Indonesia Nomor 26 tahun 1985  tentang  jalan  (Direktorat Jenderal  Bina  Marga Departemen Pekerjaan Umum).

G. Struktur Tata Ruang
Analisis terhadap struktur tata ruang kota dilaku­kan untuk mengetahui pola tingkatan pusat-pusat kegiatan yang ada di dalam kota. Pengelompokan kegiatan dan fasilitas/utilitas perkotaan pada lokasi-lokasi tertentu memberikan fungsi tertentu  pada lokasi tersebut,  yaitu  sebagai pusat-pusat pelayanan bagi kebutuhan penduduk kota.
Pendekatan yang dilakukan adalah :
·    Pengarahan dalam penempatan sarana sosial-ekonomi.
·    Penilaian keterpusatan fasilitas pelayanan, hal ini bertujuan untuk mewujudkan pusat-pusat dan sub pusat pusat pelayanan sebagai penopang kegiatan kota pada bagian-bagian wilayah pelayanannya.
·    Pendistribusian jumlah penduduk.
·    Akasesibilitas antar setiap pusat dan sub pusat pelayanan yang dinilai.
         
Adapun metodanya adalah :
·    Centralitas
·    Penentuan nilai indeks dari setiap faktor dalam penentuan pusat/sub pusat pelayanan
·    Sistem pembobotan
·    Skalogram
·    Optimal location dengan sistem median, yang metodanya terdiri dari Algoritma Substitusi Verteks, Maranzana dan sebagainya.

H. Lahan Potensial dan Pengaturan Daerah Konservasi
Konsep pengaturan daerah konservasi untuk kelestarian lingkungan dan untuk melindungi daerah-daerah sekitar sungai dan jalur hijau jalan utama, dilakukan berdasarkan hasil analisis keadaan fisik dasar (topografi, geologi dan soil, hidrologi, vegetasi, dan sebagainya), keadaan flora dan fauna dan peningkatan sejarah. Dari analisis ini dapat dihasilkan daerah yang dapat menampung berbagai kegiatan yang tidak merusak kelestarian lingkungan. Metoda yang dapat dipergunakan adalah dengan melakukan Analisis Tumpang Tindih (Super Impose) dari hasil-hasil analisis fisik dasar untuk memperoleh lahan yang dapat dikembangkan (daya dukung lahan).


PEMBAHASAN

Penduduk dikonotasikan sebagai orang atau orang-orang yang mendiami suatu tempat, kampung, wilayah atau negeri, dan merupakan aset pembangunan atau sering disebut sumber daya manusia (SDA).
Penambahan penduduk yang cepat menyebabkan tingkat kepadatan penduduk menjadi tinggi. Kepadatan penduduk dapat dihitung berdasarkan jumlah penduduk untuk setiap satu kilometer persegi. Cara menghitungnya adalah dengan membandingkan jumlah penduduk di suatu daerah dengan luas daerah yang ditempati.

DAMPAK KEPADATAN PENDUDUK TERHADAP LINGKUNGAN

Peningkatan populasi manusia atau meningkatnya jumlah penduduk menyebabkan tingkat kepadatan semakin tinggi .Pada sisi lain ,luas tanah atau lahan tidak bertambah.Kepadatan penduduk dapat mengakibatkan tanah pertanian semakin berkurang karena digunakan untuk pemukiman penduduk.
b.        Kebutuhan Udara Bersih
Setiap makluk hidup membutuhkan oksigen untuk pernapasan  .Demikian pula manusia sebagai makluk hidup juga membutuhkan oksigen untuk kehidupanya.Manusia memperoleh oksigen yang dibutuhkan melalui udara bersih .Udara bersih berati udara yang tidak tercemar,sehingga huyakitas udara terjaga dengan baik.Dengan udara yang  bersih akan diperoleh pernapasan yang sehat.
c.         Kerusakan Lingkungan
Setiap tahun, hutan dibuka untuk kepentingan hidup manusia seperi untuk dijadikan lahan pertanian atau pemukiman .Para ahli lingkungan memperkirakan lebih dari 70% hutan di dunia  yang alami telah ditebang  atau rusak parah .Menigkatnya jumlah  penduduk akan diiringi pula dengan meningkatnya  penggunaan sumber alam hayati. Adanya pembukaan hutan  secara liar   untuk dijadikan  tanah pertaniaan atau untuk mencari  hasil hutan sebagai  mata pencaharian penduduk akan merusak ekosistem hutan.
d.        Kebutuhan Air Bersih
Air merupakan kebutuhan mutlak makhluk hidup .Akan  tetapi,air yang dibutuhkan manusia sebagai mkhluk hidup adalah air bersih. Air bersih digunakan untuk kebutuhan penduduk atau rumah tangga sehari-hari.   Bersih merupakan air yang memenuhi syarat kualitas  yang meliputi syarat fisika ,kimia ,dan biologi. Syarat kimia yaitu air yang tidak mengandung zat-zat kimia yang membahayakan kesehatan  manusia. Syarat fisika  yaitu air tetap jernih (tidak brubah warna), tidak ada rasa, dan tidak berbau. Syarat biologi yaitu air tidak mengandung mikrooganisme atau kuman-kuman penyakit.
e.         Kekurangan Makanan
Manusia sebagai mahkluk hidup  membutuhan makanan. Dengan bertambahnya jumlah  populasi manusia atau penduduk, maka  jumlah kebutuhan makanan yang diperlukan juga semakin banyak. Bila hal ini tidak diimbangi dengan peningkatan  produksi  pangan, maka dapat terjadi kekurangan makanan .Akan tetapi,biasanya laju pertambahan penduduk lebih cepat daripada kenaikan produksi pangan  makanan. Ketidakseimbangan  antara bertambahnya  penduduk   dengan bertambahnya   produksi pangan sangat mempengaruhi kualitas hidup manusia. Akibatnya, penduduk dapat kekurangan gizi atau pangan. Kekurangan gizi menyebabkan daya tahan tubuh seseorang terhadap  suatu penyakit  rendah, sehingga mudah terjangkit penyakit.

f.         Pencemaran air

Disebabkan oleh limbah rumah tangga dan limbah industri.


SOLUSI MENGHADAPI MASALAH KEPADATAN PENDUDUK

Menurut Thomas Robert Malthus pertambahan jumlah penduduk adalah seperti deret ukur (1, 2, 4, 8, 16, ...), sedangkan pertambahan jumlah produksi makanan adalah bagaikan deret hitung (1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, ...). Hal ini tentu saja akan sangat mengkhawatirkan di masa depan di mana kita akan kerurangan stok bahan makanan.

Hal-hal yang perlu dilakukan untuk menekan pesatnya pertumbuhan penduduk :
1.      Menggalakkan program KB atau Keluarga Berencana untuk membatasi jumlah anak dalam suatu keluarga secara umum dan masal, sehingga akan mengurangi jumlah angka kelahiran.
2.      Menunda masa perkawinan agar dapat mengurangi jumlah angka kelahiran yang tinggi.

CARA YANG DAPAT MENGIMBANGI KEPADATAN PENDUDUK

1.                Penambahan dan penciptaan lapangan kerja
Dengan meningkatnya taraf hidup masyarakat maka diharapkan hilangnya kepercayaan banyak anak banyak rejeki. Di samping itu pula diharapkan akan meningkatkan tingkat pendidikan yang akan merubah pola pikir dalam bidang kependudukan.

2.        Meningkatkan kesadaran dan pendidikan kependudukan
Dengan semakin sadar akan dampak dan efek dari laju pertumbuhan yang tidak terkontrol, maka diharapkan masyarakat umum secara sukarela turut mensukseskan gerakan keluarga berencana.

3.        Mengurangi kepadatan penduduk dengan program transmigrasi
Dengan menyebar penduduk pada daerah-daerah yang memiliki kepadatan penduduk rendah diharapkan mampu menekan laju pengangguran akibat tidak sepadan antara jumlah penduduk dengan jumlah lapangan pekerjaan yang tersedia.


4.        Meningkatkan produksi dan pencarian sumber makanan
Hal ini untuk mengimbangi jangan sampai persediaan bahan pangan tidak diikuti dengan laju pertumbuhan. Setiap daerah diharapkan mengusahakan swasembada pangan agar tidak ketergantungan dengan daerah lainnya

     
Referensi :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar